Realisasi Pancasila, Komisi XIII: Setiap Kebijakan Harus Berlandaskan HAM

Realisasi Pancasila, Komisi XIII: Setiap Kebijakan Harus Berlandaskan HAM

Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI Andreas Hugo Pareira. Foto : Dok/Andri

Jakarta, Inilah.co.id – Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira, menegaskan bahwa Pancasila bukan hanya simbol atau dasar negara, melainkan panduan moral dan konstitusional dalam menjunjung tinggi hak asasi manusia (HAM). Hal ini ia sampaikan dalam rangka memperingati Hari Lahir Pancasila yang jatuh setiap 1 Juni.

Menurut Andreas, sila kedua Pancasila “Kemanusiaan yang Adil dan Beradab” merupakan inti dari penghormatan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Sila ini, kata dia, menjadi jembatan antara nilai luhur Pancasila dengan prinsip-prinsip HAM yang universal.

“Setiap regulasi dan kebijakan negara harus memihak pada keadilan sosial, menjunjung martabat manusia, dan menolak segala bentuk diskriminasi,” tegasnya dalam keterangan tertulis, Selasa (3/6/2025).

Politisi dari Dapil NTT I itu mengingatkan bahwa peringatan Hari Lahir Pancasila seharusnya tidak sebatas seremoni tahunan, spanduk, atau unggahan simbolis di media sosial.

Lebih dari itu, yang dibutuhkan adalah komitmen nyata dan keberanian politik untuk menerapkan Pancasila dalam setiap kebijakan negara, dari legislasi hingga pelayanan publik.

“Pancasila harus menjadi ideologi kerja. Bukan sekadar wacana, tapi diwujudkan dalam penganggaran, pengawasan, dan pelayanan yang menyentuh langsung rakyat,” ujarnya.

Andreas juga mengulas sejarah Pancasila yang digali oleh Presiden Soekarno dari nilai-nilai lokal bangsa Indonesia, dan diresmikan sebagai dasar negara dalam Pembukaan UUD 1945. Bagi Andreas, semangat Bung Karno ini harus terus dihidupkan, terutama dalam menjamin hak-hak warga negara.

Ia menegaskan bahwa penegakan HAM bukan retorika kosong. “Apa artinya Indonesia Raya kalau rakyat kecil terus dihimpit harga kebutuhan pokok, anak-anak kehilangan akses pendidikan, dan petani terusir dari tanahnya sendiri?” tandasnya.

Ia menambahkan, memperkuat Pancasila berarti memastikan negara berpihak pada yang lemah dan tidak tunduk pada kepentingan kapital semata.

Mengutip Bung Karno, Andreas berkata: “Aku tidak menciptakan Pancasila, aku hanya menggali mutiara dari bumi Indonesia.” Ia menekankan bahwa Pancasila adalah panggilan untuk kerja nyata dalam mewujudkan keadilan dan kesejahteraan.

Terakhir, Andreas mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan momen Hari Lahir Pancasila sebagai ajang refleksi dan koreksi. “Mari kita teguhkan komitmen untuk membangun Indonesia yang lebih adil, kuat, dan benar-benar berlandaskan nilai-nilai Pancasila,” pungkasnya.

Leave a Reply