Mi Instan Indonesia Bikin Warga Korea Ketagihan di Festival Ramyeon Seoul

Mi Instan Indonesia Bikin Warga Korea Ketagihan di Festival Ramyeon Seoul

Ilustrasi Mi Instan © Freepik

Jakarta, Inilah.co.id – Cita rasa mi instan asal Indonesia sukses memikat lidah warga Korea Selatan dalam ajang Korea International Ramyeon Fair yang digelar di Seoul baru-baru ini. Tak hanya sekadar ikut serta, salah satu merek mi instan Tanah Air berhasil jadi sorotan!

Menurut Direktur Korean Cultural Center Indonesia, Kim Yong Woon, tren ini tak lepas dari banyaknya wisatawan Korea yang jatuh hati pada mi goreng saat berlibur ke Indonesia.

“Popularitas mi goreng terus meningkat di Korea, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap mi instan Indonesia,” ujarnya seperti dikutip Antara, Jumat (13/6).

Yang membedakan, mi goreng khas Indonesia tidak berkuah seperti ramyeon Korea, dan punya rasa gurih serta pedas-manis yang ternyata pas di lidah orang Korea.

Kim bahkan mengaku awalnya sempat kurang puas karena porsi mi instan Indonesia lebih kecil dibanding ramyeon. “Tapi sekarang saya justru lebih menikmati mi instan Indonesia—rasa pedasnya lebih terasa dan porsinya ternyata cukup besar,” tambahnya.

Sebagai konsumen mi instan terbesar kedua di dunia menurut data World Instant Noodles Association 2023, Indonesia gencar memperkenalkan produknya di Korea, termasuk dengan menggandeng artis Korea untuk iklan—dan hasilnya, sukses besar!

Kecintaan masyarakat Korea terhadap mi instan sendiri sudah terbangun sejak lama. Ramyeon pertama kali hadir pada 1963 sebagai solusi atas kelangkaan pangan. Dulu, harganya hanya 10 won per bungkus. Sekarang? Sekitar 1.000 won atau setara Rp11.800.

Awalnya, ramyeon kurang diminati karena orang Korea belum akrab dengan makanan berbahan dasar tepung. Tapi seiring waktu, varian rasa yang lebih sesuai dengan selera lokal mulai bermunculan—terutama rasa pedas, yang mulai populer sejak 1980-an dan bertahan hingga sekarang.

Beragam inovasi juga terus hadir, mulai dari ramyeon rasa saus kedelai hitam pada 1970-an, ramyeon cup tahun 1973, bibim ramyeon (disajikan dingin) pada 1983, hingga ramyeon goreng pedas pada 2012.

Fenomena ramyeon bahkan menjalar ke Indonesia. Di Jakarta, kini ada tempat unik bernama “ramyeon library”, tempat ala perpustakaan tempat pengunjung bisa memilih dan memasak berbagai varian ramyeon sendiri, persis seperti gaya piknik di Sungai Han, Seoul.

Di sana, masyarakat membeli ramyeon di minimarket, memasaknya langsung, lalu menikmatinya di taman—kegiatan ini dikenal dengan istilah Han River Ramyeon.

“Saya berharap, dua bangsa pencinta mi instan ini bisa terus mempererat hubungan lewat pertukaran budaya yang aktif dan seru,” tutup Kim penuh.

Leave a Reply