Kisah Jose Mourinho Tinggalkan Inter Milan Setelah Treble Winner

Kisah Jose Mourinho Tinggalkan Inter Milan Setelah Treble Winner

Jose Mourinho (c) AFP

Jakarta, Inilah.co.id – Musim 2009/2010 menjadi babak emas dalam sejarah Inter Milan. Di bawah komando Jose Mourinho, Nerazzurri menorehkan tinta emas dengan meraih treble winner: Serie A, Coppa Italia, dan Liga Champions.

Namun, di tengah gemuruh kemenangan, sebuah keputusan mengejutkan pun lahir: Mourinho memutuskan hengkang.

Partai final Liga Champions melawan Bayern Munchen bukan sekadar penutup musim, melainkan klimaks dari perjalanan luar biasa Inter.

Saat trofi ketiga digenggam, Jose Mourinho tak hanya mengukir sejarah di Italia, tapi juga menegaskan statusnya sebagai pelatih kelas dunia.

Namun euforia itu tak bertahan lama. Hanya berselang enam hari setelah malam kejayaan di Santiago Bernabéu, Mourinho mengucapkan selamat tinggal. Tujuannya? Real Madrid.

Ambisi Pribadi Jose Mourinho di Balik Perpisahan

Dalam wawancaranya, Jose Mourinho tak menutupi alasan kepergiannya. Ia ingin menantang sejarah dan menjadi satu-satunya pelatih yang mampu mengangkat trofi Liga Champions bersama tiga klub berbeda. Setelah sukses bersama Porto dan Inter, target selanjutnya adalah kejayaan di Spanyol.

“Saya ingin menorehkan rekor yang belum pernah dicapai pelatih lain,” ungkapnya kepada The Athletic.

“Saya akan selalu mencintai Inter, tapi ambisi dan keberanian mengambil risiko adalah bagian dari diri saya,” lanjutnya.

Jose Mourinho juga mengakui bahwa atmosfer sepak bola Italia tak sepenuhnya cocok dengannya, meski ia tetap menghargai pengalaman luar biasa di Negeri Pizza itu.

Transfer Mahal dan Langkah Baru

Keputusan Mourinho untuk meninggalkan Inter memang bukan kabar biasa. Real Madrid rela merogoh kocek dalam, membayar kompensasi sekitar 8 juta euro, angka yang saat itu mencetak rekor transfer untuk seorang pelatih.

Perpindahan ini menjadi bukti betapa berharganya Mourinho di mata klub-klub elite Eropa.

Jose Mourinho Pergi dengan Cara yang Tak Terlupakan

Namun, bukan hanya keputusannya yang mengejutkan. Cara Mourinho mengucap selamat tinggal pun penuh emosi dan simbolisme.

Usai final Liga Champions, ia langsung masuk ke mobil dan pergi, meninggalkan stadion tanpa pamit ke para pemain maupun suporter.

“Saya takut akan berubah pikiran kalau melihat air mata mereka,” kenangnya.

“Saya belum tanda tangan kontrak dengan Madrid, baru sebatas kesepakatan. Tapi saya tahu, kalau saya kembali ke Milan, saya tidak akan sanggup pergi.”

Dengan jujur, Mourinho mengakui bahwa dirinya “kabur” dari para pemain dan fans yang begitu mencintainya.

Beberapa hari kemudian, kontrak resmi dengan Real Madrid ditandatangani. Sebuah babak baru dimulai, sementara Inter ditinggalkan dalam kenangan manis dan haru yang tak mudah dilupakan.

Leave a Reply